Fungsi Agama Bagi Lansia

 Spiritualitas merupakan kualitas dasar manusia yang dialami oleh setiap orang dari semua keyakinan dan bahkan oleh orang-orang yang tidak berkeyakinan tanpa memandang ras, warna, asal negara, jenis kelamin, dan usia. Spiritualitas mencakup hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan alam harmonis, hubungan dengan orang lain, dan hubungan dengan ketuhanan (Hamid, 2009). Secara umum, agama berfungsi sebagai pembimbing dalam hidup, Penolong dalam kesukaran, dan penentram batin .

 Masa lanjut usia (lansia) merupakan masa paling akhir dari siklus kehidupan manusia. Seseorang dikatakan lanjut usia apabila berusia 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan (Efendi & Makhfudli, 2009). Sedangkan fungsi agama bagi lansia secara signifikan membantu lansia dan pemberi layanan untuk beradaptasi terhadap perubahan yang diakibatkan oleh penyakit kronis. Dalam hal ini bukan hanya diperuntukan bagi lansia yang memiliki penyakit kronis saja, melainkan diperuntukan bagi seluruh lansia, yang secara fisik kesehatannya menurun. Tidak hanya berkenaan dengan fisik, salah satu masalah kesehatan yang mempengaruhi kualitas kehidupan lansia adalah gangguan kognitif dimana gangguan ini akan mengakibatkan menurunnya fungsional Lansia tersebut (Lestari, 2013). Penurunan kemampuan-kemampuan kognitif itu seperti sering lupa, kemunduran orientasi serta tidak mudah menerima hal atau ide baru.(Harimurti, 2016).

 Lansia yang berhasil beradaptasi dengan kondisinya akan menyebabkan pertumbuhan spiritual. Lansia yang memiliki pemahaman kesejahteraan spiritual merasakan hubungan dengan kekuatan tertinggi dan orang lain dapat menemukan arti dan tujuan hidup, akan dapat beradaptasi lebih baik dengan penyakit kronis yang dimilikinya, di mana membantu lansia mencapai potensi dan peningkatan kualitas hidupnya (Adegbola, 2006).

 Beberapa penelitian menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara agama, spritualitas, dan well-being (Burkey, Chauvin & Miranti, 2005). Sebagai contoh penelitian yang dilakukan Eddington dan Shurman (2008) yang menyatakan subjective well-being berkaitan dengan kekuatan yang berkorelasi dengan Yang Maha Kuasa dan dengan keikutsertaan dalam aspek keagamaan. Kemudian penelitian Diener (2009) yang menyatakan bahwa secara umum orang yang religius cenderung untuk memiliki tingkat well-being yang lebih tinggi, dan lebih spesifik. Diener (2009) juga mengungkapkan bahwa hubungan positif antara spiritualitas dan keagamaan dengan subjective well-being berasal dari sistem dukungan yang diberikan oleh organisasi keagamaan (Diener, 2009).

Comments

Popular posts from this blog

Si Bungsu dalam Lika-liku Perantauan

Peran Aktif Mahasiswa Menangkal Paham Radikalisme dalam Konteks Beragama di Indonesia dengan Memanfaatkan Teknologi Informasi di Era Society 5.0

Perjalanan Penulis Muda NU, Muhammad Assegaf dalam Dunia Literasi