Perjalanan Penulis Muda NU, Muhammad Assegaf dalam Dunia Literasi

Dalam proses karya tulis tentu memiliki khazanah cerita menarik yang tertuang dalam imajinasi, dan kaidah bahasa. Setiap sudut pandang dalam sebuah topik yang dibicarakan, tidak semua orang lihai dan menikmati proses transfer gagasan yang tertuang dalam tulisan.

Muhammad Assegaf, salah satu penulis muda Nahdlatul Ulama di Kabupaten Cirebon  mampu menyulap setiap diksi yang lahir dari imajinasi dan ilmiah dengan berbekal teoritis, lahirlah tulisan-tulisan yang indah buah dari gagasannya. 

Ia menggeluti dunia kepenulisan mulai dari Esai, Opini, Puisi, dan Cerpen. Keterampilan menulis yang ia kembangkan berawal dari usia 17 Tahun, saat duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Awalnya tulisannya dinilai sepele oleh teman-temannya, namun hal tersebut tidak melemahkannya untuk terus berkarya, dalam setiap pekan tulisannya di publish di mading sekolah.

Menurut hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis, ia terinspirasi menulis dari sebuah film yang diangkat dari sebuah novel "Tenggelamnya Kapal Vanderwijk" karya Buya Hamka. Dari sosok Zainudin, melahirkan inspirasi untuk mulai merangkak dan memperjuangkan literasi di daerahnya. Perjalanan yang dilalui penuh rintangan, hingga ia pernah bertemu fase terpuruk selama 2 Tahun lamannya.

Alasannya menulis adalah, karena ia menikmati dan merasa menemukan dunianya, yang paling menarik dari dunia kepenulisan ia dapat secara merdeka mengekspresikan pemikiran yang liar dan ekspresif dalam sebuah tulisan. "Menulis menjadi ketenangan dalam diri, dan dengan cara itulah sebuah meditasi pikiran berkalana", tuturnya. 

Proses perjalanan Assegaf cukup pelik, dengan berbagai macam rintangan yang harus ia hadapi. Sejauh ia menekuni selama kurang lebih 10 Tahun lamannya. Dalam periode perintisan, karyanya kerapkali mendapatkan cemoohan bahkan disebut sebagai karya sampah. Hingga dinilai tidak enak untuk dibaca, bahkan direndahkan. Namun ejekan itu, justru menambah ghirah Assegaf, dan bertekad kelak ia akan menjadi penulis hebat. 

Berawal dari kelas menulis di RWTC Succes, Anara Publishing House, Malka Sastra, dan masih banyak lagi. Tentang karya yang terus ia tekuni itu membuahkan hasil menakjubkan hingga ia bisa diterima sebagai penulis aktif di website pustakabergerak.id dan menjadi penulis naik daun. Karya yang ia tulis tidak jauh dari karya buah pikir dan karya peristiwa.

Yang melatar belakangi ia bergerak di dunia literasi, berawal dari pertemuannya dengan Pak Nirwan Ahmad Arsuka (Founder Pustaka Bergerak Indonesia), beliau pernah berkata "perjalanan kamu itu bukan ditulis oleh orang lain, tapi ditulis oleh diri kamu sendiri." Hal tersebut menambah rasa optimisme bagi Assegaf untuk terus menulis dan berkarya. 

Penghargaan bergengsi yang pernah ia dapat selama menulis diantaranya sebagai Penulis Istimewa Tingkat Internasional dalam "Surat Untuk Kaki Langit Palestina" oleh Indonesia Writing Club, Penulis Naik Daun di Website Pustaka Bergerak, Penulis Esai Terbaik dalam Haul Gus Dur Ke-13, dan masih banyak lagi. Dari pencapaiannya tersebut, menjadikan ia  memperoleh piagam penghargaan dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M) IAIN Syekh Nurjati Cirebon sebagai Mahasiswa Produktif dan Kreativitas dalam berkarya tulis. 

Hingga kini ia terus bersemangat dalam proses, dan menyadari akan perjalanan hidupnya yang masih panjang, sehingga berusaha mengoptimalkan setiap masa dengan menghasilkan sebuah karya. 


Penulis : Nina Rojanah

Comments

Popular posts from this blog

Si Bungsu dalam Lika-liku Perantauan

Peran Aktif Mahasiswa Menangkal Paham Radikalisme dalam Konteks Beragama di Indonesia dengan Memanfaatkan Teknologi Informasi di Era Society 5.0