Si Bungsu dalam Lika-liku Perantauan

#sharingtime

Sebelum meninggalkan kampung halaman, baik untuk mondok, kuliah, ataupun merantau bekerja, tradisi di keluarga kami adalah sowan ke kyai setempat. Begitupun dengan saya ketika ingin melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.

Tentunya selain berharap keberkahan, pun juga supaya bisa mendapatkan support secara spiritual dalam bentuk wejangan, doa, dan amalan 'wirid' yang bisa di implementasikan dikemudian hari. 

Support dalam bentuk spiritual ini jarang sekali didapatkan dalam budaya modernisasi, secara global umumnya hanya bertaut pada support system dan materil. Misalnya "Semangat belajarnya, baik-baik ya disana, jaga diri, jangan boros, ini uang sekian buat 1 bulan". 

Berbeda cerita dengan orang tua jaman dulu yang dengan sederhana berpesan "Ojo tinggal sholat, ngaji, lan poso Senin Kamis, awake di jaga", serta memberi amalan wiridan. Dan yang saya dapatkan kemarin adalah kurang lebih pak yai berpesan yang intinya jangan jadi orang yang pesimis, dari manapun latarbelakang kamu, harus 'kendel' (berani), kemudian memberikan beberapa amalan wirid. 

Beberapa tahun dilalui, saya merasakan manfaatnya ketika saya bertemu dengan orang dari berbagai latarbelakang, baik yang mampu secara ekonomi dan berkecukupan ataupun sebaliknya. Saya harus merendah dan tetap menjadi diri sendiri, mensyukuri setiap pemberian-Nya. Meskipun ketika di fase down, suka misuh-misuh sambil membandingkan dengan kondisi orang lain. Karena sejatinya saya tetaplah remaja akhir, yang kalau berbicara idealistis masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dan menjadi tanggung jawab orang tua. 

Dalam hal ini, bukan berarti melempar tanggung jawab ke orang tua. Ada pesan tersirat yang bisa diambil, yaitu kita harus bisa menjadi orang yang paham kondisi dan situasi, kapan kita harus bergerak, berinisiatif, dan berjuang. Tidak hanya bertumpu pada orang tua. 

Kembali lagi, pada wejangan dan wiridan yang diberikan kyai intinya permohonan supaya diberikan kemudahan, keberkahan, dan kebermanfaatan pada setiap hal yang dilakukan. 

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk menggapai impian dan cita. Diberi umur yang berkah dan manfaat. 

Allahuma yassir wala tu'assir 

Penulis : Nina Rojanah

(Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Yogyakarta, 11 Maret 2023

Comments

Popular posts from this blog

Peran Aktif Mahasiswa Menangkal Paham Radikalisme dalam Konteks Beragama di Indonesia dengan Memanfaatkan Teknologi Informasi di Era Society 5.0

Perjalanan Penulis Muda NU, Muhammad Assegaf dalam Dunia Literasi